Peristiwa pembantaian massal di Indonesia


       Indonesia adalah sebuah negara besar dengan keanekaragaman suku dan budaya. Indonesia negara kita dengan ribuan pulau di dalamnya yang terpisahkan oleh laut. Begitu besarnya Indonesia, sehingga kita menjadi bangga dengan Indonesia, kita menyebut diri sebagai bangsa Indonesia.
Sementara orang asing menghargai kita, mengatakan bahwa kita ini bangsa yang ramah tamah. Dan kita juga bangga dengan itu, namun tahukah kalian bahwa menurut catatan sejarah telah menunjukkan sisi buruk kita, sisi terkejam Indonesia. Peristiwa-peristiwa pembantaian terhadap orang asing maupun sesama orang Indonesia sendiri. Beberapa peristiwa pembantaian massal tersebut bukan terjadi pada saat perang, diantara peristiwa pembantaian adalah sebagai berikut.

  1. Pembantaian massal terhadap orang China di Kali angke pada masa penjajahan Belanda tahun 1740. Peristiwa ini berawal saat VOC masih menguasai perdagangan gula di negara kita. Pada waktu itu banyak perkebunan diciptakan dan pabrik-pabrik didirikan. Dari sini muncullah kebutuhan akan pekerja, VOC menilai tenaga kerja pribumi kala itu belum banyak yang trampil, VOC lebih suka memakai pekerja dari China atau Tiongkok. Kemudian banyak orang -orang China datang ke Batavia. Beberapa tahun sempat VOC bisa menikmati keuntungan besar, masalah baru muncul saat hasil produksi pabrik gula VOC mendapat saingan dari kongsi pedagang Inggris di India. Harga gula jatuh dan pabrik bangkrut dan PHK terjadi. Para pekerja dari China lalu menjadi pengangguran dan meningkatlah kriminalitas. Beberapa kebijakan pemerintah Hindia Belanda diterapkan diantaranya dengan mengirimkan mereka ke perkebunan tebu di Srilanka. Namun kekacauan justru terjadi karena tersebar isu bahwa orang China yang dikirim ke Srilanka tidak sampai ke tujuan, melainkan dibuang ke laut. Perlawanan timbul orang-orang China mulai menyerang kota, mereka membakar dan menjarah. Pemerintah Hindia Belanda turun tangan dengan membantai orang-orang China. Tidak peduli pria, wanita, anak-anak bahkan bayi, semua dibunuh dengan kejam. Sekitar sepuluh ribuan orang menjadi korban, peristiwa pembantaian tersebut menjadi sejarah hitam Jakarta atau Batavia tahun 1740. Kejadian itu juga merupakan asal nama Kali Angke tercipta dari kali merah dalam bahasa Mandarin, karena peristiwa pembantaian itu telah membuat kali besar yang mengalir disisi kota berubah menjadi merah oleh darah.
  2. Pembantaian para anggota PKI tahun 1965-66. Seperti kita ketahui dalam sejarah telah terjadi peristiwa pembantaian terhadap para anggota PKI. Manakala PKI berusaha memberontak dan membunuh beberapa Jendral TNI, dari situ TNI secara rahasia kemudian melatih banyak relawan untuk memberantas PKI. Saat itu kekuatan PKI dan simpatisannya memang sangat kuat, bahkan petani dan buruh dibawah underbow diminta untuk dipersenjatai. Didesa-desa PKI mempunyai Pemuda Rakyat, untuk para wanita mereka punya Gerwani. Dalam setiap kampanyenya Para pemimpin PKI selalu menggelorakan semangat revolusi anti imperialisme dan neo imperialisme. Banyak baliho dan spanduk maupun selebaran kampanye PKI selalu menampilkan anggotanya mengacungkan senjata, itu membuat takut para lawan politiknya. Menurut sumber para ahli mengatakan bahwa peristiwa pembantaian para anggota PKI tersebut diprakarsai dan didanai oleh CIA. Seorang agen CIA yang bertugas di Indonesia kala itu memberikan daftar 5000 nama pengurus PKI dari pusat sampai daerah. Tujuannya untuk menangkap mereka dan mengadilinya ?, namun yang terjadi di dalam masyarakat menjadi lain. Selain ke 5000 nama pengurus PKI, ada ratusan ribu orang PKI atau simpatisan PKI atau pula orang biasa yang terkena fitnah. Kebanyakan para korban tersebut adalah orang-orang kecil, orang-org miskin yang tak tahu apa-apa. Mereka di bunuh setelah sebelumnya ditangkap dirumah masing-masing untuk kemudian dibunuh dengan ditonton oleh para tetangga dan sanak saudaranya. Peristiwa pembantaian itu terjadi di Sumatra Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan beberapa kota di Kalimantan serta daerah lain di Indonesia dimana basis PKI berada. Peristiwa itu begitu mengerikan, Presiden Soekarno kemudian menurunkan Tim Pencari Fakta atas peristiwa itu dan hasilnya didapati hampir satu juta orang telah menjadi korban kekacauan peristiwa pembantaian itu.
  3. Peristiwa pembantaian Talangsari di Lampung tahun 1989. Peristiwa pembantaian terhadap kelompok pengajian pimpinan Ustadz Jayus dan Ustadz Warsidi di desa Talangsari, Kecamatan Way Jepara, merupakan satu diantara tindakan represif pemerintah Orba terhadap kelompok-kelompok yang dianggap subversif atau melawan negara. Dalam peristiwa pembantaian tersebut puluhan anggota pengajian pimpinan Ustadz Jayus dan Warsidi tewas, sekian lainnya terluka. Setelah sebelumnya terjadi beberapa kali bentrok antara anggota kelompok pengajian, yang kebanyakan adalah warga transmigran dari Jawa, melawan pemerintah dalam hal ini adalah tentara dari Kodim dan Koramil setempat. Beberapa korban tewas di kedua belah pihak, yang kemudian di akhiri dengan sebuah penyerbuan oleh tentara ke tempat pengajian kelompok pimpinsn Ustadz Warsidi tersebut. Ustadz Jayus da Ustadz Warsidi tewas oleh berondongan peluru. 
  4. Peristiwa pembantaian Tanjung Priok 1984, jumlah korban versi pemerintah adalah 53 orang sementara menurut LSM ada sekitar 400 orang tewas. Amir Biqi/Biki adalah sosok yang dianggap vokal pada masanya, padahal di masa itu orang vokal dianggap sebagai pemberontak. Kalau tidak dipenjara maka akan dikucilkan oleh masyarakat dan pemerintah tentu saja. Seperti juga Amir Biki, seorang tokoh angkatan 66 yang notabene adalah pendukung Soeharto tetap saja dianggap lain oleh pemerintah. Setiap kegiatannya diawasi, namun Umar Biki yang punya banyak pengikut di organisasi keagamaannya masih punya gigi bila menyangkut urusan dengan pemerintah. Termasuk urusan antara umatnya dan ABRI kala itu di tahun 1984. Bermaksud akan membebaskan empat orang pengikutnya yang ditahan karena membakar motor seorang tentara dimana tentara tadi telah menghina muslim. Sekelompok pengajian di mussala As Saadah memang sudah menjadi target untuk dimusnahksn, karena ajarannya menentang Pancasila. Jadi sewaktu kerumunan kelompok pengajian (remaja masjid) berduyun-duyun menuju Kodim da sebagian menuju Polres, mereka sudah dihadang sepasukan tentara. Kerumunan pertama yang menuju Polres berhenti 200 meter dari  kantor Polres. Para jemaah pengajian itu lantas disuruh mundur , namun mereka tidak mau malahan terus memekikkan Allahu Akbar! Serta merta senjata para tentara itu langsung memberondongkan peluru kearah jemaat pengajian. Puluhan orang bergelimpangan, sebagian sisanya tiarap dan bersembunyi di got ataupun di tempat lain menghindari terjangan peluru aparat. Sementara gerombolan jemaat yang menuju Kodim juga sudah disambut dengan hadangan senjata, Amir Biki ada dalam rombongan ini. Pihak tentara hanya mengijinkan 3 orang untuk mewakili, dan tiga orang termasuk Amir Biki maju memasuki Kodim, namun baru beberapa langkah ketiganya malah diberondong tembakan, ketiganya tersungkur. Melihat itu jemaat pengajian lainnya pun jadi lari kocar kacir. Tentara yang memang sudah siap sebelumnya lantas terus menembaki para jemaat yang sedang lari tersebut, korban-korban bergelimpangan. Dalam penyelidikan kemudian terungkap bahwa Amir Biki dan jemaat pengajian dituduh anti Pancasila dan subversif, yaitu dianggap bagian atau sempalan dari NII Karto Suwiryo. 

Sumber : 

Peristiwa pembantaian massal di Indonesia Peristiwa pembantaian massal di Indonesia Reviewed by TABUH GONG on 21:44:00 Rating: 5

3 comments:

  1. ngeri ya, banyak kejadian pembantaian masal, klo pembantaian pki di madian pernah lihat lokasinya

    ReplyDelete
  2. Masih banyak contohnya ya mas

    ReplyDelete

Link Video Lucu
Silahkan di Like jika suka atau Dislike jika tidak suka.
Lihat disini : https://youtu.be/lYCq6aAXCJ0

.